Nasabah Bumiputera Gunungkidul Bingung, Klaim Asuransi Puluhan Juta Tak Bisa Cair

by | Jul 30, 2020 | Headline, Rakyat Kecil | 0 comments

Ketidakjelasan pencairan Asuransi Jiwa Bumiputera (AJB) membuat sejumlah peserta asuransi mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Gunungkidul, . Mereka mengadukan tentang klaim polis puluhan juta yang tidak segera dibayar oleh pihak Bumiputera meski sudah jatuh tempo.

Salah satu nasabah Bumiputera asal Kelurahan Wareng, Kapanewon Wonosari, Daryanti menuturkan, sesuai perjanjian kontrak dirinya bakal menerima pembayaran dari asuransi pendidikan yang ia ikuti sejak 2005 silam. Pembayaran klaim seharusnya sudah dilakukan Bumiputera pada akhir tahun 2019 lalu senilai Rp 14 juta.

Saat ini sudah mundur 6 bulan. Katanya kalau sudah jatuh tempo perjanjian kontrak maksimal terlambat 1 bulan bisa cair,” kata Daryanti.

Ia mengungkapkan, pengambilan dana asuransi pendidikan itu untuk membiayai anaknya yang hendak melanjutkan sekolah.

Tidak cairnya klaim asuransi pendidikan yang ia ikuti, dirinya lantas menghentikan pembayaran premi ke Bumiputera yang seharusnya disetor setiap tiga bulan itu. Daryanti mengaku selain mengikuti asuransi pendidikan, ia juga memegang polis asuransi jiwa. Premi yang harus dibayar dari dua jenis asuransi tersebut senilai Rp 350.000.

Yang asuransi jiwa sudah saya ajukan ambil ada senilai sekitar Rp 65 juta. Meski belum jatuh tempo saya ajukan untuk ditarik,” tandas Daryati.

Ia dan teman-temannya sudah berupaya berulang kali datang ke kantor, namun tak mendapat jawaban yang jelas.

“Kami selalu disuruh menunggu terus. Diminta cek nomor antrian secara online tapi tidak pernah bergeser,” imbuh Daryati ketus.

Saat mengecek, dirinya mendapat giliran cair nomor urutan di atas 24.000. Padahal saat ini antrian baru sampai nomor urutan ke-56. Sejak lama nomor antrian 56 itu tidak berubah.

Hal yang sama juga dikeluhkan peserta asuransi Bumiputera yang lain, Hartini, warga Kelurahan Wareng. Ia mengikuti asuransi produk investasi namun juga tak mengetahui kapan uang yang menjadi haknya dibayarkan.

Sekali setor tahun 2013 silam Rp 50 juta. Kontrak perjanjiannya April lalu bisa ditarik tapi juga tidak ada kejelasan,” ujar Hartini.

Dulu, berdasar janji pihak marketing Bumiputera, ia akan menerima dana Rp. 65 juta. Namun kenyataan itu tidak ada setelah hampir mencapai dua bulan dari jatuh tempo kontrak yang disepakati.

Selain dua warga ini, lima warga lain yang menjadi nasabah Bumiputera turut resah. Kemudian ikut datang konsultasi ke Kejari. Mereka khawatir akan nasib uang yang dibayarkan selama bertahun-tahun untuk berbagai produk asuransi di Bumiputera.

Daryanto, saudara salah satu nasabah asal Kelurahan Wareng yang ikut menemani konsultasi mengaku akan menempuh jalur hukum jika tidak segera ada kejelasan mengenai klaim yang telah diajukan ke Bumiputera. Ia yakin banyak nasabah di Gunungkidul yang mengalami hal serupa. Dirinya ingin agar sesama nasabah berkomunikasi dan bersiap menentukan langkah konkrit dalam mengupayakan hak-haknya.

“Klaim dari satu nasabah saja nilainya puluhan juta, kalau dari seluruh Gunungkidul terkumpul dapat mencapai ratusan juta bahkan mungkin bisa lebih,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejari Gunungkidul, S. Winarti mengatakan, informasi yang ia dapatkan bahwa perusahaan negara itu sedang mengalami masalah keuangan dan saat ini dalam pemeriksaan Kejaksaan Agung.