Ukiran Batu Alam Jadi Produk Andalan Desa Ngeposari

by | Jul 30, 2020 | Informasi Pilihan, UMKM | 0 comments

Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu memiliki berbagai potensi usaha yang berkembang di masyarakat. Beberapa usaha itu meliputi sentra industri bakpia, kerajinan enceng gondok, ukiran batu alam hingga sektor kepariwisataan. Dari sejumlah usaha ini, kerajinan batu merupakan sektor unggulan milik Desa Ngeposari. Hal tersebut terlihat dari nilai ekonomis yang dimiliki, selain itu produk yang dihasilkan telah menembus pasar ekspor. “Kita tidak menampilkan sektor lain. Tapi untuk saat ini, kerajinan batu alam masih menjadi unggulan utama di desa kami,” kata Kepala Desa Ngeposari Ciptadi kepada Harian Jogja Menurut dia, usaha ukiran batu alam telah dimulai sejak belasan tahun yang lalu. Dari produksi ini banyak warga yang ikut merasakan manfaat dengan adanya sentra usaha tersebut. “Desa memang tidak mendapatkan hasil apa-apa, tapi dengan melihat masyarakat lebih sejahtera itu lebih memuaskan,” ujarnya. Dia menjelaskan, untuk saat ini tidak hanya produksi ornament batu yang dihasilkan. Sebab, Desa Ngeposari sudah banyak mengirimkan warganya untuk menjadi ahli pahat batu di Bali. “Awalnya memang hanya kerajinan yang diambil. Tapi sekarang sudah puluhan warga yang diminta pengusaha di Bali untuk memahat batu di sana,” kata Ciptadi lagi. Majunya sektor kerajinan ukiran batu di Ngeposari dapat dilihat banyaknya showroom-showroom kerajinan yang buka di sepanjang jalan Pacitan-Kota Jogja tepatnya di wilayah desa itu. Menurut Ciptadi, kerajinan batu yang dihasilkan tidak hanya untuk mencukupi pasar lokal, tapi sudah banyak yang dikirim ke mancanegara, khususnya pasar Eropa. “Sudah ada yang dikirim ke Prancis,” ungkapnya. Ke depan, kata dia, pihak desa memiliki mimpi untuk bisa menggabungkan berbagai potensi yang dimiliki menjadi satu sehingga bisa saling melengkapi. Ciptadi mencontohkan, keberadaan unit kerajinan batu alam dapat dikombinasikan dengan keberadaan sektor pariwisata. Salah satu tujuannya agar wisatawan tidak hanya mendatangi lokasi wisata, namun dapat membeli produk kerajinan yang dimiliki. “Untuk itu, kami akan terus mengembangkan potensi-potensi yang ada melalui program pemberdayaan masyarakat,” ujarnya. Salah seorang perajin batu alam di Dusun Mojo, Ngeposari, Roy Dasuki mengaku sudah memulai usaha kerajinan sejak 2003 lalu. Dari usaha ini, ia mengaku sudah mendapatkan banyak hasil. “Paling banyak produk yang saya hasilkan di jual ke luar daerah seperti Bali, Kalimantan dan Jakarta,” katanya. Menurut dia, untuk ukiran memiliki harga yang bervariasi dan sangat tergantung dengan motif, bentuk relief hingga ukuran batu yang digunakan. “Biasanya untuk ornamen batu dengan ukuran 1×1 meter dibanderol di kisaran harga Rp1-2,3 juta,” katanya.